Search

Loading...

SociaL sHarE

Sunday, August 14, 2011

Asfiksia Neonatorum


BAB I
PENDAHULUAN

I. I    Latar Belakang
        Asfiksia Neonatorum adalah Keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur, bila terdapat pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke Janin, akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir.
Towell (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi yang terdiri dari: Faktor Ibu, Faktor plasenta, Faktor Fetus, Faktor Neonatus.
Asfiksia neonatrum dibagi dalam:
1.      Vigrous Baby. Skor Apgar 7-10 dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan istimewa.
2.      Mild Moderate Asphyxia (Asfiksia sedang). Skor Apgar 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100 / menit, tonus otot kurang baik / baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
3.                 a). Asfiksia berat, skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/m, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada
b). Asfiksia berat dengan henti jantung, bunyi jantung terus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap, bunyi jantung bayi menghilang post partum. Dalam hal ini pemeriksaan fisik lainnya sesuai dengan yang ditemukan pada penderita asfiksia berat.

I. 2    Tujuan
         I.2.1  Tujuan Umum
                  Setelah membuat laporan Asuhan Kebidanan, diharapkan mahasiswa dapat mengerti, memahami serta mampu membuat asuhan kebidanan Pada By. Ny. ”W” usia 1 hari dengan asfiksia
         I.2.2  Tujuan Khusus
Adapun tujuan yang dapat kita ambil dari penyusunan laporan ini adalah :
a.       Melakukan pengkajian data subyektif dan obyektif  pada By. Ny. ” W” usia 1 hari dengan asfiksia
b.      Mengidentifikasi diagnosa dan masalah
c.       Mengidentifikasi masalah potensial
d.      Mengidentifikasi kebutuhan yang harus dipenuhi
e.       Membuat rencana tindakan
f.       Melaksanakan tindakan
g.      Melaksanakan evaluasi dan hasil tindakan

I. 3    Manfaat
a.       Mahasiswa
      Mahasiswa dapat memahami tentang pentingnya asuhan bayi baru lahir dengan asfiksi.
b.      Bagi Institusi
      Institusi dapat mengetahui sejauh mana mahasiswa akademi kebidanan Dian Husada mampu membuat asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan asfiksi.
c.       Bagi Lahan Praktek
      RS dapat meningkatkan asuhan pelayanan yang komprehensif pada bayi baru lahir dengan asfiksi.

I. 4    Metode Penulisan
Didalam penulisan makalah ini yang digunakan adalah diskripsi dengan menggunakan studi kasus melalui pendekatan manajemen kebidanan menurut varney meliputi langkah – langkah pendekatan pengumpulan data, identifikasi diagnosa dan masalah, identifikasi masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evalusi.

I. 5    Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penyusunsn ini adalah :
a. Wawancara
      Yaitu dengan bertanya langsung kepada ibu klien tentang hal – hal yang berhubungan dengan latar belakang kondisi kesehatan klien.


b.Observasi langsung
      Yaitu melalui pengamatan langsung maupun pemeriksaan fisik dengan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.
c. Studi dokumen
      Dengan melihat rekam medis
d.      Studi literatur
   Yang melalui referensi dan literatur

I. 6    Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Melalui latar belakang masalah, tujuan penulisan, manfaat, metode penulisan, teknik pengumpulan data serta sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Pada tinjauan pustaka yang dibahas adalah Pengertian asfiksia, Etiologi asfiksia, Gambaran Klinis asfiksia, Kriteria Asfiksia Neonatorum, Tindakan pada asfiksia neonetorum, Patofisiologi asfiksia.
BAB III TINJAUAN KASUS
Meliputi 7 langkah manajemen Varney yaitu pengkajian data subyektif dan obyektif identifikasi diagnosa dan masalah, identifikasi masalah potensial, identifikasi kebutuhan segera, intervensi, implementasi dan evalusi
BAB IV PEMBAHASAN
Membahas tentang kesenjangan teori dan praktek di lapangan, yaitu pada tinjauan kasus  By. Ny. “ W ” usia 1 hari dengan asfiksia.
BAB V PENUTUP
Meliputi kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.     Pengertian
§  Asfiksia Neonatorum  :Keadaan dimana bayi yang baru dilahirkan tidak segara bernafas secara spontan dan teratur setelah dilahirkan.
( Rustam Mochtar 1998. Sinopsis Obstetri )
§  Asfiksia Neonatorum  :Keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.
(Sarwono  Prawirohardjo:2005:709)
§  Asfiksia Neonatorum  : Suatu keadaan bayi lahir yang gagal bernafas secara
   spontan dan teratur segera setelah lahir.
 (FKUI : 1985   : 1072)

II.  Etiologi
Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahiran dan kemudian disusul dengan pernafasan teratur, bila terdapat pertukaran gas atau pengangkutan oksigen dari ibu ke Janin, akan terjadi asfiksia janin atau neonatus. Gangguan ini dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir.
Towell (1966) mengajukan penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi yang terdiri dari:
  1. Faktor Ibu
-       Hipoksia Ibu, dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetika atau anastesia dalam.
-       Gangguan aliran darah uterus, menguranginya aliran darah uterus akan menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plosenta dan demikian pula ke janin. Hal ini sering ditemukan pada keadaan gangguan kontraksi uterus, hipotensi mendadak karena pendarahan, preeklamsi dll.
  1. Faktor plasenta
Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solusia plasenta, pendarahan plasenta, dll.


  1. Faktor Fetus
Kompresi umbilicus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbang, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat dan lain-lain.

  1. Faktor Neonatus
Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal yaitu:
a). Pemakaian obat anastesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin.
b). Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya pendarahan intracranial.
c). Kelainan congenital pada bayi misalnya hernia difragmita, atresia / stenosis saluran pernafasan dan lain-lain.

III.         Gambaran Klinis
Pernafasan spontan bayi baru lahir bergantung kepada kondisi janin pada masa kehamilan dan persalinan. Proses kelahiran sendiri selalu menimbulkan asfiksia ringan yang bersifat sementara pada bayi (asfiksia transient). Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan oksigen selama kehamilan / persalinan, akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan fungsi ini dapat reversible atau tidak bergantung kepada berat dan lamanya asfiksi. Hal ini sesuai dengan observasi klinis yang tampak pada bayi asfiksi. Asfiksia yang terjadi dimulai dengan suatu periode Apnu (Primary Apneu) disertai dengan penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan memperlihatkan usaha bernafas (Gasping) yang kemudian diikuti oleh pernafasan teratur. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas ini tidak tampak dan bayi selanjutnya berada pada periode apneu kedua (Secondary Apneu). (FKUI :1985:1073)

IV.         Kriteria Asfiksia Neonatorum
Penilaian secara apgar score dianggap paling ideal dan telah banyak digunakan dimana-mana. Patokan klinis yang dinilai adalah :
1). Menghitung frekuensi Jantung
2). Melihat usaha bernafas
3). Menilai tonus otot
4). Menilai reflek rangsangan
5). Memperhatikan warna kulit.

Skor Apgar

Tanda
0
1
2
Jumlah nilai
Frekuensi Jantung
Tidak ada
Kurang dari 100/m
Lebih dari 100/m

Usaha Bernafas
Tidak ada
Lambat, tidak teratur
Menangis kuat

Tonus Otot
Lumpuh
Ekstrimitas Flexi Sedikit
Gerakan Aktif

Refleks
Tidak ada
Gerakan sedikit
Menangis

Warna
Biru / pucat
Tubuh kemerahan ekstrimitas biru
Tubuh dan ekstrimitas kemerahan


Asfiksia neonatrum dibagi dalam:
1.      Vigrous Baby. Skor Apgar 7-10 dalam hal ini bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan istimewa.
2.      Mild Moderate Asphyxia (Asfiksia sedang). Skor Apgar 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100 / menit, tonus otot kurang baik / baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada
3.      a). Asfiksia berat, skor apgar 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/m, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada
b). Asfiksia berat dengan henti jantung, bunyi jantung terus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap, bunyi jantung bayi menghilang post partum. Dalam hal ini pemeriksaan fisik lainnya sesuai dengan yang ditemukan pada penderita asfiksia berat.


V.  Tindakan pada asfiksia neonetorum
       Tujuan utama mengatasi asfiksia ialah untuk mempertahankan kelangsungan hidup bayi dalam membatasi gejala sisa (sekuele) yang mungkin timbul dikemudikan hari. Tindakan pada bayi lazim disebut resusitasi bayi baru lahir.

Sebelum resusitasi dikerjakan, perlu diperhatikan bahwa:
  1. Faktor waktu sangat penting. Makin lama bayi menderita asfiksia, perubahan homeostatis yang timbul makin berat, resusitasi akan lebih sulit.
  2. Riwayat kehamilan dan partus akan memberikan keterangan yang jelas tentang faktor penyebab terjadinya depresi pernafasan pada bayi baru lahir.
  3. Resusitasi yang dilakukan harus adekuat sesuai dengan penilaian yang diperoleh pada bayi baru lahir.
Prinsip dasar resusitasi yang perlu di ingat ialah
  1. Memberikan lingkungan yang baik pada bayi dan mengusahakan saluran pernafasan tetap bebas serta merangsang timbulnya pernafasan. Yaitu agar agsigenasi dan pengeluaran CO2 berjalan lancer.
  2. Memberikan bantuan pernafasan secara aktif pada bayi yang menunjukkan usaha pernafasan lemah.

Langkah-langkah Resusitasi
-          Cegah pelepasan panas yang berlebihan, keringkan (hangatkan) dengan menyelimuti seluruh tubuhnya terutama bagian kepala dengan handuk yang kering.
-          Bebaskan jalan nafas, atur posisi. Isap lender  bersihkan jalan nafas bayi dengan hati-hati dan pastikan bahwa jalan nafas bayi bebas dari hal-hal yang dapat mengalami masuknya udara ke dalam paru-paru, hal ini dapat dilakukan dengan:
·         Ekstensi kepala dan leher sedikit lebih rendah dari tubuh bayi
·         Hisap lender pada mulut dan hidung bayi sehingga jalan nafas bersih dari cairan ketuban, mekonium, lender dan rangsangan taktil, bila mengeringkan tubuh bayi dan penghisapan lender (cairan ketuban dari mulut dan hidung) yang dasarnya merupakan tindakan rangsangan belum cukup untuk menimbulkan pernafasan yang udekuat pada bayi baru lahir dengan penyulit, maka diperlukan rangsangan taktil tambahan.
·         Ada dua cara yang memadai dan cukup aman untuk memberikan rangsangan taktil, yaitu:
1.      Menepukkan atau menyentil telapak kaki dan menggosok punggung bayi. Cara ini sering kali menimbulkan pernapasan pada bayi yang mengalami depresi pernafasan yang ringan.
2.      Menggosok punggung bayi secara cepat, mengusap atau mengelus tubuh, tungkai dari kepala bayi juga merupakan rangsangan taktil tetapi rangsangan yang ditimbulkan lebih ringan dari menepuk, menyentil atau menggosok prosedur ini tidak dapat dilakukan pada bayi yang apnoe, hanya dilakukan pada bayi yang telah berusaha bernafas.

 VI.  Patofisiologi










VII. TINJAUAN MENEJEMEN
I.   Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal……. Pukul:……
A.    Data Subyektif
1.      Biodata
Sangat penting untuk mengetahui latar belaknag, identitas, tingkat intelektual (bagi orang tua bayi) serta status ekonomi berkaitan dengan rencana pemberian konseling dan KIE.
2.      Keluhan Utama
Apa yang menjadi keluhan bayi?
3.      Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ada / tidak menderita penyakit menular, menurun, maupun penyakit yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
4.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Sedang / tidak sedang menderita penyakit menular, menurun, maupun penyakit yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
5.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada / tidak ada keluarga yang menderita penyakit menular, menurun, maupun penyakit yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
6.      Riwayat Perkawinan Orang Tua
-          Lama menikah                            -        Jumlah Anggota Keluarga
-          Usia Pertama Menikah               -        Urutan Anak Ke-
-          Perkawinan Ke- Berapa             -        Yang Mengasuh Anak
7.   Riwayat Antenatal
      Berapa kali periksa ke bidan selama masa kehamilan, ada gangguan atau tidak seperti mual, pusing, diberi apa obat saja oleh bidan, imunisasi TT, tablet penambah darah, vitamin, kalsium, dan konseling.
8.      Riwayat Intranatal
Anak yang lahir hidup/mati, persalinan tepat waktu/tidak, aterm/premature, proses persalinan ditolong oleh siapa (bidan,dokter/dukun), jenis kelamin bayi, jenis kelahiran placenta, riwayat perdarahan atau tidak, menyusui bayinya atau tidak, imunisasi bayinya, berat badan bayi, usia bayi.

9.      Pola Aktivitas sehari-hari (bayi)
- Pola Nutrisi      :        Berapa kali makan/minum dalam sehari, menu makanan, minum susu/tidak.
- Pola Eliminasi  :        BAB/BAK berapa kali sehari, konsistensinya.
- Pola Aktifitas   :        Mengalami gangguan tumbang/tidak.
- Pola Istirahat    :        Lamanya/durasi, ada gangguan tidur/tidak.
- Pola Kebersihan        : Frekuensi mandi, gosok gigi, ganti pakaian berapa kali dalam sehari.
10.  Data Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah diterima oleh bayi.

B.     Data Obyektif
1.      Pemeriksaan Umum
K/U              :     Baik/Cukup/Lemah
Kesadaran    :     Composmentis/ Letargi/Sommolen/Apatis/Koma
TD                :     -
Suhu             :     360C – 37,50C
Nadi             :     120 - 160 x/mnt
RR                :     30 - 40 x/mnt
2.      Pemeriksaan Fisik
a.       Inspeksi
Kepala    :     Ada benjolan abnormal/tidak, ada penumpukan sutura/tidak, keadaan rambut, keadaan kulit kepala, warna rambut.
Mata       :     Warna konjungtiva merah muda/anemis, warna sclera putih/tidak, pupil isokor/tidak, cekung/tidak.
Hidung   :     Simetris/tidak, adakah secret/tidak.
Telinga   :     Daun telinga sudah terbentuk/belum, simetris/tidak, serumen ada/tidak.
Mulut     :     Bibir kering/tidak, sianosis/tidak, stomatitis/tidak, labiopalatokisis/tidak.
Dada      :     Tarikan iontercoste yang belebihan/tidak.
Perut       :     Adakah asites/tidak.
Genetalia      :     Bersih/tidak
Ekstremitas  :     turgor kulit +/-, oedem/tidak.
b.      Palpasi
Leher      :    adakah pembesaran kel.lymfe, kel.tyroid, dan vena jugularis.
Dada      :     adakah benjolan abnormal.
Perut       :     adakah asites.

c.       Auskultasi
Perut       :    bising usus (berapa frekuensinya), metorismus ada/tidak.
Dada      :  apakah ada bunyi nafas tambahan

d.      Perkusi
Perut    :  metorismus/tidak.

II.                Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx       : By “w” usia 1 hari dengan asfiksia ringan
Ds        : -
Do       : K/u    : cukup
              Kesadaran     : composmentis
              TTV               : S        : 362 oC
                                      N       : 142 x/m
                                      RR     : 50  x/m

III.             Antisipasi Kebutuhan Segera
Ada atau tidaknya masalah yang bila tidak segera ditangani akan menyebabkan sesuatu hal yang fatal bagi klien

IV.             Identifikasi Kebutuhan Segera
Penanganan segera dan tepat bagi masalah klien

V.                Intervensi
Tanggal :                                                                     jam      :
Dx       : By “w” usia 1 hari dengan Asfiksia ringan
Tujuan   : setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan masalah dapat teratasi dalam 1 x 24 jam
K/H     : K/u    : baik
              Kesadaran     : composmentis
              TTV   : S        : 36,5 oC – 36,5 oC
                          N       : 120 – 160 x/m
                                  RR     : 40 – 60 x/m
Intervensi
1.    Jalin hubungan saling percaya antara tenakes dan keluarga
R/ menjalin hubungan saling percaya antara tenakes dan keluarga
2.    Lakukan observasi TTV pada pasien setiap 1 jam sekali
R/ untuk mengetahui kondisi pasien
3.    Jaga tubuh pasien agar tetap hangat
R/ mencegah terjadinya hipotermi
4.    Jaga kebersihan jalan nafas
R/ mencukupi suplai O2
5.    Berikan PASI
R/ memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayi
6.    Lakukan kolaborasi pelayanan yang terdekat]
R/ mendapatkan pelayanan yang terdekat
7.    Memberikan O2
R/ memperbaiki K/u dan kondisi pasien karena jalan nafas lancer

VI.               Implementasi
Langkah ini rencana asuhan seluruhnya dilakukan secara efektif, efisien dan aman.
Pelaksanaan dapat dilakukan oleh nakes seluruhnya atau bila perlu dengan kolaborasi

VII.  Evaluasi
Langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan.




BAB III
TINJAUAN KASUS

Tanggal MRS              : 28 Juni 2009
Tanggal Pengkaji         : 29 Juni 2009
Jam                              : 20.00 WIB
No. Reg                       : 140577

I.       Pengkajian
A.      Data Subyektif
1.         Biodata pasien
Nama Bayi           : By “w”
Usia                      : 1 hari
Jenis kelamin        : perempuan
2.         Biodata Penanggung Jawab

Nama Ibu           : ny “w’
Usia                   : 15 th
Agama               : Islam
Suku/Bangsa      : Jawa/Indonesia
Pendidikan        : SMP
Pekerjaan           : -
Penghasilan        : -
Alamat               :Wonorejo,
Nama Ayah   : Tn “A”
Usia               : 22 th
Agama          : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan    : SMA
Pekerjaan      : Mahasiswa
Penghasilan   : -
Alamat          :Wonorejo


3.         Alasan Datang
Bayi kiriman dari RB Nuraini lahir dengan vacuum extraksi ditolong oleh dokter dengan AS 3 – 5
4.         Keluhan Utama
Ibu mengatakan bayinya sulit bernafas
5.         Riwayat penyakit Sekarang
Ibu mengatakan saat ini bayinya sulit bernafas. Saat lahir bayinya tidak menangis.


6.         Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan anaknya baru lahir dan tidak pernah menderita penyakit ini sebelumnya.
7.         Riwayat kesehatan keluarga
Keluarga pasien mengatakan di dalam keluarganay tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti kencing manis, dan asma, menular seperti HIV, batuk tidak sembuh-sembuh dan menahun seperti Jantung.
8.         Riwayat kehamilan dan persalinan
§  Antenatal
TM I    : ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya 2x. ibu
mengeluh mual pada pagi hari dan mendapat tablet Fe dan vitamin dari bidan ibu juga mendapatkan imunisasi TT.
TM II  : ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya 2x ke bidang
dan tidak mengalami keluahan apapun. Ibu mendapat tablet Fe dan vitamin dari bidan serta, imunisasi TT.
TM III : ibu mengatakan memeriksakan kehamilannya 3 x ke bidan,
ibu mengeluh sering kencing dan sesak. Ibu mendapat tables Fe dan vitamin serta imunisasi TT.
·           Natal
Bayi lahir di RB Nuraini dengan Vakum ekstraksi dalam usia kehamilan 40 – 41 mg dengan ditolong oleh dokter. Bayi lahir tidak langsung menangis.

·           Post Natal
Ibu mengatakan masih mengeluarkan darah berwarna merah kekuning-kuningan dan tidak menyusui bayinya.
9.         Riwayat pertumbuhan dan perkembangan
·           Pertumbuhan
Pb        : 50 cm
BB       : 30100 gr
LILA   : 11 cm
Lika     : 34 cm
Lida     : 31


·           Perkembangan
-                       
10.     Pola kebiasaan sehari-hari
Nutrisi      : untuk sementara pasien dianjurkan puasa untuk menghindari
  aspirasi karena pasien kadang masih kejang.
Eliminasi  : BAB = 1 x (selama jam 20.00 – 07.00) warna hijau tua dan
  konsistensinya lembek
Bak           : 4 – 5 x (selama jam 20.00 – 07.00) warna kuning jernih dan baunya
  khas.
Aktivitas  : Bayi lebih banyak tidur dan sebentar-sebentar menangis
Istirahat    : Bayi tidurnya lelap dan bangun ketika lapar. BAB dan BAK

11.     Riwayat imunisasi
Ibu mengatakan bayinya belum mendapat imunisasi

B.       Data Obyektif
1.    Pemeriksaan umum
K/u  : cukup
Kesadaran   : composmentis
TTV            : S        : 362 oC
                      N       : 142 x/menit
                      RR     : 50 x/menit
Diameter kepala      : Sub okspita bregmantika       : 32 cm
                                  Fronto oksipito                      : 34 cm
                                  Mento Oksipito                     : 38 cm
2.    Pemeriksaan Antropometri
PB               : 50 cm                        LIKA  : 34 cm                        LILA   : 11cm
BB              : 3100 Gr         LIDA  31 cm             
3.    Pemeriksaan Fisik
a.    Kepala dan rambut
Inpeksi   : Bentuk simetris, tidak ada kotoran, penyebaran rambut merata,
  warna rambut hitam.
Palpasi    : tidak ada benjolan, sutura terpisah, ubun-ubun besar datar, tidak ada
  caput dan chephal hematon.
b.    Mata
Inpeksi   : simetris antara kanan dan kiri, konjuntiva merah muda, sclera putih
  (tidak ikhterus)
c.    Hidung
Inspeksi  : simetris, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret
Palpasi    : tidak ada nyeri tekan
d.   Mulut
Inspeksi  : simetris, tidak siamosis, tidak kering, bersih, tidak ada
  secret, tidak ada labioscisis atau labiopalatochisis.
e.    Telinga
Inspeksi  : simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen.
Palpasi    : daun telinga lunak, tidak ada nyeri tekan.
f.     Leher
Palpasi    : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran vena
  jugularis dan kelenjar limfe.
g.    Dada
Inspeksi  : gerakan dada simetris, adanya tetraksi, tidak ada pengeluaran pada
  mamae, areola jelas menonjol 2 – 3 cm.
h.    Perut
Inspeksi  : tidak ada pendarahan, pada tali pusat terpasang infuse
Palpasi    : tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan/massa
Auskultasi          : ada bising usus (16 x/menit)
i.      Ekstremitas
Atas       : simetris antara kiri dan kanan, tidak ada polidactile dan sindactile
  pergerakan lemah.
Bawah    : simetris antara kanan dan kiri, tidak ada polidactile dan sindactile
  pergerakan lemah
j.      Genetalia
Inspeksi  : bersih, klitoris menonjol, tidak ada peradangan.
k.    Anus
Inspeksi  : bersih, tidak atresia ani.



4.    Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium                                                                      tgl: 28 Juni 2009
-       HB                     : 14,1 gr/dl       Normal (L 134 – 17,7) (P 11,4 – 15,1)
-       Led                    : -
-       Lekosit               : 19.200
-       Hitung jenis       :           0          / 0          / 0         / 63      / 34       / 3
                                      EO (0-4) Ba (0-1) Stab (3-5) seg (54-62) Lim (25-33)
-       Hematoksit        : 44,9 normal (L 45 – 50%) (P 35 – 45 %)
-       Trombosit           : 245.000 normal (150.000 – 400.000)
5.    Reflek
-       Rooting             +
-       Sucking              +
-       Swallowing        +
-       Morro                 +
-       Tonic neck         +

II.    Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx       : By “w” usia 1 hari dengan asfiksia ringan
Ds        : -
Do       : K/u    : cukup
              Kesadaran     : composmentis
              TTV               : S        : 362 oC
                                      N       : 142 x/m
                                      RR     : 50  x/m

III.  Antisipasi Kebutuhan Segera
-       Hipoksia

IV.  Identifikasi Kebutuhan Segera
-       Berikan O2
-       Hangatkan bayi dan bebaskan jalan nafas

V.    Intervensi
Tanggal : 29 Juni 2009                                                jam      : 21.00
Dx       : By “w” usia 1 hari dengan Asfiksia ringan
Tujuan : setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan masalah dapat teratasi dalam 1 x 24 jam
K/H     : K/u    : baik
              Kesadaran     : composmentis
              TTV   : S        : 36,5 oC – 36,5 oC
                          N       : 120 – 160 x/m
                                  RR     : 40 – 60 x/m
Intervensi
8.    Jalin hubungan saling percaya antara tenakes dan keluarga
R/ menjalin hubungan saling percaya antara tenakes dan keluarga
9.    Lakukan observasi TTV pada pasien setiap 1 jam sekali
R/ untuk mengetahui kondisi pasien
10.   Jaga tubuh pasien agar tetap hangat
R/ mencegah terjadinya hipotermi
11.   Jaga kebersihan jalan nafas
R/ mencukupi suplai O2
12.   Berikan PASI
R/ memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayi
13.   Lakukan kolaborasi pelayanan yang terdekat]
R/ mendapatkan pelayanan yang terdekat
14.  Memberikan O2
R/ memperbaiki K/u dan kondisi pasien karena jalan nafas lancer

VI.     Implementasi
Tanggal : 29 Juni 2009
1.      Menjalin hubungan terapeutik dengan keluarga dengan cara memberi salam dan sapa
2.      Melakukan observasi TTV pada pasien setiap 1 jam sekali
3.      Menjaga tubuh pasien agar tetap hangat dengan cara menjaga popok bayi tetap kering, memberi selimut atau menggedong.
4.      Menjaga kebersihan jalan nafas dengan menjaga mulut dan hidung tetap bersih dan tidak ada sumbatan.
5.      Memberikan PASI 30 cc saat bayi terlihat lapar
6.      Memberikan O2 2 l/m
7.      Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.

VII.       Evaluasi
Tanggal     : 30 Juni 2009
Jam            : 20.00
Dx             : bayi “w” usia 1 hari dengan asfiksia ringan
S                : -
O               : k/u     : cukup
                    Kesadaran     : composmentis
                          TTV               : HR    : 142 x/m
                                                                  RR     : 46 x/m
                                                  S        : 367 oC
Tangis +, minum PASI +, Kembung - , Cyanosis  -, Kejang +, BAB + 1x (20.00 – 07.00), BAK + 3x (20.00-07.00)
A: Bayi “w” usia 1 hari dengan asfiksia ringan
P: Lanjutkan rencana keperawatan
-       Observasi k/u dan TTV
-       Menjaga kehangatan bayi
-       Merawat bayi sehari-hari
-       Melaksanakan program terapi dokter







BAB IV
PEMBAHASAN

            Setelah melakukan asuhan kebidanan pada By. Ny  “W” usia 1 hari dengan asfiksi, bayi dapat bernafas secara spontan dan keadaan umumnya baik. Dari data pengkajian didapatkan bahwa asfiksi pada By. Ny. “W” disebabkan oleh faktor dari ibu.
            Setelah dilakukan asuhan analisa data pada By. Ny  “W” usia 1 hari dengan asfiksi didapatkan tidak adanya kesenjangan antara teori dan praktek. Pada teori dilakukan asuhan kebidanan pada bayi dengan asfiksi  yaitu resusitasi dan pemberian O2.
Pada bayi baru lahir dengan asfiksi memerlukan perawatan secara konservatif agar bayi dapat bernafas secara normal.























BAB V
PENUTUP

5.1              Kesimpulan
Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi dengan asfiksi diperlukan perawatan dan penatalaksanaan yang tepat dan cepat sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi / keadaan bayi yang bertambah buruk. Sehingga bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

5.2              Saran
Asuhan pada bayi dengan asfiksi perlu perawatan konservatif untuk menghindari terjadinya komplikasi yang lebih berat sehingga bisa memperburuk keadaan bayi. Maka kita sebagai tenaga kesehatan  harus cekatan dan mampu  dalam menangani pasien dengan komplikasi seperti di atas.




















DAFTAR PUSTAKA


____________1985, Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
___________2005, Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP

0 komentar:

Followers

Blog Roll